Kecaman PBB Menguat Usai Rusia Luncurkan Rudal Oreshnik ke Ukraina
Penggunaan rudal balistik Oreshnik oleh Rusia dalam serangan ke Ukraina menuai kecaman keras dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Amerika Serikat dan Inggris menilai langkah tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang berpotensi memperluas konflik, mengingat Oreshnik merupakan jenis rudal yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir.
Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, Wakil Duta Besar AS
untuk PBB, Tammy Bruce, menyebut serangan Rusia ke wilayah Lviv sebagai
tindakan berisiko tinggi yang sulit dibenarkan. Pernyataan senada disampaikan
Inggris melalui Pelaksana Duta Besar PBB, James Kariuki, yang menilai aksi
Moskow sebagai langkah sembrono dan ancaman serius bagi stabilitas keamanan
regional maupun global.
Rusia mengklaim peluncuran rudal Oreshnik diarahkan ke
fasilitas perbaikan pesawat militer. Namun, otoritas Ukraina belum
mengonfirmasi klaim tersebut dan menyatakan serangan itu merupakan bagian dari
rangkaian serangan besar yang juga melibatkan drone serta roket lainnya.
Oreshnik sendiri dikenal sebagai rudal balistik langka dengan kemampuan membawa
hulu ledak ganda dan diyakini hanya dimiliki Rusia dalam jumlah terbatas.
Sejumlah pengamat militer menilai penggunaan Oreshnik lebih
sarat pesan simbolik dan politik ketimbang tujuan militer murni. Ada dugaan
kuat bahwa Rusia menggunakan hulu ledak tiruan, sehingga kerusakan yang terjadi
lebih disebabkan oleh gelombang kejut dan benturan fisik, bukan akibat ledakan
nuklir. Akurasi rudal Oreshnik juga dinilai kurang optimal jika digunakan untuk
serangan non-nuklir yang menuntut presisi tinggi.
Sementara itu, eskalasi di lapangan terus berlanjut. Kota
Kyiv dan Kharkiv kembali menjadi sasaran serangan pada Selasa dini hari. Di
Kharkiv, sedikitnya empat orang dilaporkan tewas dan enam lainnya mengalami
luka-luka. Di Odesa, dua gelombang serangan menyebabkan kerusakan pada bangunan
tempat tinggal, rumah sakit, serta taman kanak-kanak, dengan sedikitnya lima
warga sipil terluka.
Ukraina juga menuding Rusia melakukan serangan terhadap
kapal-kapal sipil di kawasan Laut Hitam. Sebuah kapal tanker berbendera Panama
dilaporkan terkena serangan drone saat menunggu giliran masuk pelabuhan untuk
memuat minyak nabati, yang mengakibatkan satu awak kapal terluka. Selain itu,
kapal berbendera San Marino yang membawa muatan jagung juga menjadi sasaran di
sekitar Pelabuhan Chornomorsk.
Pemerintah Ukraina menilai serangan tersebut sebagai bukti
bahwa Rusia secara sengaja mengincar aktivitas perdagangan sipil dan
keselamatan jalur maritim. Di tengah meningkatnya kekerasan, PBB mencatat tahun
2025 sebagai periode paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak 2022.
Sepanjang tahun lalu, lebih dari 2.500 warga sipil tewas dan lebih dari 12.000
orang terluka, angka yang meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Kyiv mengumumkan bahwa konsorsium investor
yang didukung Amerika Serikat memenangkan hak penambangan cadangan litium
Dobra. Langkah ini menunjukkan upaya Ukraina untuk tetap mengamankan
kepentingan ekonomi strategis di tengah perang yang belum menunjukkan
tanda-tanda mereda.
Rangkaian perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa konflik
Ukraina telah memasuki fase yang semakin sensitif, ditandai penggunaan
persenjataan strategis serta dampak kemanusiaan yang terus meluas.

Comments
Post a Comment